Jumat, 22 Oktober 2021

EnglishIndonesian

BALAI KARANTINA PERTANIAN KELAS II TANJUNGPINANG

BADAN KARANTINA PERTANIAN
KEMENTERIAN PERTANIAN

Tanpa Marka, 160 Palet Kayu Asal Singapura Dimusnahkan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Bintan (23/11) Sebanyak 160 palet kayu asal Singapura milik PT. Pulau Bintan Djaya dikenakan tindakan pemusnahan oleh Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Tanjungpinang. Pelaksanaan pemusnahan palet kayu tersebut dilangsungkan ditempat pemilik di Jalan Nusantara KM.16 Bintan Timur pada Kamis 23 November 2017. Selain disaksikan langsung oleh Pimpinan Perusahaan Karet Remah PT. Pulau Bintan Djaya dan Kepala BKP Kelas II Tanjungpinang beserta pejabat struktural, nampak juga hadir sebagai saksi dari instansi-instansi terkait. Masing-masing dari Kantor KSOP Kelas II Kijang, KPP Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Tanjungpinang, dan Polsek Bintan Timur. Sedangkan perwakilan dari Pelindo I Cabang Tanjungpinang berhalangan hadir. Tak ketinggalan para petugas teknis karantina tumbuhan BKP Kelas II Tanjungpinang juga hadir sekaligus mengawasi pelaksanaan kegiatan pemusnahan tersebut.

Dalam sambutannya, Kepala BKP Kelas II Tanjungpinang, drh. Iswan Haryanto, M.Si menyampaikan bahwa setiap pemasukan kemasan kayu ke Indonesia harus dibubuhi marka. Hal ini telah diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 12 Tahun 2009 tentang Persyaratan dan Tatacara Tindakan Karantina Tumbuhan terhadap Pemasukan Kemasan Kayu ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia. Kemasan kayu ini bisa berbentuk palet, pengganjal, peti, tong, atau penyangga yang  terbuat dari kayu atau hasil kayu yang belum diolah untuk digunakan menopang, mengemas, dan mengganjal barang kiriman. Marka yang dimaksud merupakan suatu tanda resmi dan diakui secara internasional yang ditetapkan oleh Interim Commision on Phytosanitary Measures dalam  International Standards for Phytosanytary Measures No.15 (ISPM#15). Lebih lanjut Iswan menjelaskan, kalau sudah dimarka berarti negara asal menyatakan kemasan kayu tersebut telah diberi perlakuan oleh perusahaan kemasan kayu yang teregristasi di negara tersebut guna menyucihamakan dari Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) yang mungkin saja terbawa, terutama dari kelompok serangga dan nematoda.

”Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 12 Tahun 2009, terhadap kemasan kayu yang tidak memiliki marka harus dilakukan tindakan perlakuan salah satunya dengan cara difumigasi. Apabila perlakuan tidak bisa dilaksanakan maka dilakukan tindakan penolakan ke negara asal. Setelah batas waktu penolakan yang ditetapkan tidak dikembalikan ke negara asal maka dilakukan tindakan pemusnahan. Seperti yang kita lakukan saat ini terhadap 160 palet kayu tanpa marka asal Singapura,”kata Iswan. Pemusnahan terhadap 160 palet kayu tanpa marka dilakukan dengan cara dibakar. Para saksi secara bersamaan meletakkan obor api di tumpukan palet kayu. Setelah palet kayu hangus terbakar, dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara pemusnahan oleh saksi-saksi yang hadir dan ditutup dengan foto bersama. Meskipun diselingi hujan saat kegiatan pemusnahan berlangsung, namun tidak mengurangi semangat dan keseriusan para hadirin dalam mengikuti rangkaian acara tersebut.

 

 

 

 

Artikel Lainnya

Tinggalkan komentar