Terobos Hambatan Teknis Ekspor, Kementan Luncurkan 4 Inovasi Tindakan Perlakuan Karantina

Terobos Hambatan Teknis Ekspor, Kementan Luncurkan 4 Inovasi Tindakan Perlakuan Karantina

Bekasi — Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian, Balai Uji Terap Teknik dan Metoda Karantina Pertanian pada hari ini, Selasa (2/7) meluncurkan 4 inovasi tindakan perlakuan karantina. “Alhamdulillah, upaya panjang sejak tahun 2011 telah membuahkan hasil, 4 tindakan perlakuan karantina untuk produk unggulan ekspor yakni Mangga, Sarang Burung Walet, Tanaman Hias dan perlakuan Fumigasi dapat dirampungkan,” kata Ali Jamil, Kepala Barantan saat meluncurkannya.

Jamil menjelaskan, saat ini dunia melalui kesepakatan Organisasi Perdagangan Dunia, World Trade Organization (WTO) telah menerapkan kebijakan Non-Tariff Barriers yang mendorong perdagangan bebas, tanpa kecuali termasuk komoditas pertanian. Seluruh komoditas pertanian dapat diperdagangkan kecuali memiliki hambatan teknis non tarif, salah satunya berupa persyaratan Sanitary and Phytosanitary, SPS. Persyaratan keamanan dan kesehatan produk ini menjadi hambatan teknis jika tidak dipenuhi, untuk itu diperlukan tindakan perlakuan karantina agar produk dapat diterima negara mitra dagang. “Ini sesuai dengan instruksi Menteri Pertanian Bapak Dr. Ir. Andi Amran Sulaiman, MP untuk memacu, memacu dan memacu ekspor komoditas pertanian kita. Hari ini kita luncurkan 4 inovasi, tindakan perlakukan karantina untuk komoditas mangga, sarang burung walet, tanaman hias dan tindakan fumigasi. Kita tembus hambatan teknis agar bisa menembus pasar dagang dunia,” terang Jamil.

Secara rinci, Kepala Balai Uji Terap Teknik dan Metoda Karantina Pertanian, Wawan Sutian menjelaskan 4 tindakan perlakuan karantina yang telah dihasilkan Barantan ini yakni masing-masing perlakuan tindakan karantina pada buah mangga Gedong dan Arumanis berupa _hot water treatment_ (HWT) untuk mengeliminasi _Bactrocera papayae._ Kedua kultivar mangga Indonesia ini memiliki potensi menembus pasar internasional. Saat ini pasar yang disasar dan belum dapat ditembus adalah Korea Selatan dikarenakan hambatan teknis lalat buah jenis tertentu. Dengan perlakuan HWT ini dapat membebaskan mangga kita dari Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK).

Yang kedua adalah, perlakuan fumigasi Sulfuryl Fluoride (SF) untuk mengeradikasi _Dinoderus minutus_ pada kayu log. Dengan adanya larangan penggunaan metil bromida karena sifatnya yang merusak ozon, maka diperlukan alternatif penggantinya. Sulfuryl Fluoride (SF) merupakan fumigan alternatif yang dapat dijadikan pengganti metil bromida. Wawan menambahkan bahwa tindakan perlakuan karantina SF ini mempunyai daya penetrasi sangat baik, tidak merusak ozon, tidak mudah terbakar dan tidak menimbulkan resistensi pada serangga.

Selanjutnya adalah perlakuan terhadap tanaman hias _Polyscias sp,_ berupa _hot water treatment_ (HWT) untuk mengeliminasi nematoda _Radopholus similis_ pada tanaman hias _Polyscias sp._

Tanaman hias asal Indonesia ini banyak digunakan sebagai tanaman hias untuk taman terbuka kota-kota di China, Singapura, Korea Selatan dan Hongkong. Namun di bulan September 2016, _Polyscias sp_ dilarang masuk ke Korea Selatan karena ditemukannya nematoda _Radopholus similis_ pada akar tanaman hias tersebut. Guna mengatasi hal tersebut, pihaknya melakukan pengujian dan penerapan HWT dan terbukti efektif, sehingga ekspor komoditas ini dapat kembali dilakukan.

Dan inovasi yang ke-4 adalah pada komoditas sarang burung walet (SBW) yang di akhir tahun 2018 berhasil
membukukan volume ekspor hampir 1.200 ton dengan nilai ekonomi sekitar Rp. 50 Trilliyun. Untuk SBW, Barantan melakukan inovasi perlakuan berupa _Hot Treatment_ (HT) yang dimaksudkan untuk menginaktivasi virus _Avian influenza._ Inovasi ini diharapkan dapat terus menjaga kesehatan, keamanan dan mutu komoditas unggulan ini hingga tetap dapat bersaing di pasar Tiongkok dan negara-negara konsumen lainnya.

Uji terap ini merupakan inovasi perlakuan tindakan karantina yang berbasis ilmiah dan berstandar internasional untuk mendukung akselerasi ekspor dengan meningkatkan nilai tambah dan daya saing di pasar internasional. Dan untuk terus meningkatkan inovasi teknologi terapan tentang perkarantinaan pertanian kedepan adalah perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Pada saat yang bersamaan ke-4 inovasi ini didaftarkan kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk mendapatkan hak paten. “Ini menjadi penting agar invensi atau inovasi baru yang dihasilkan Kementan melalui Badan Karantina Pertanian ini memiliki memiliki manfaat yang sebesar-besar nya dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat kita dan sudah barang tentu ini menjadi kekayaan intelektual dibidang pertanian, kita dorong dan pacu terus, ” pungkas Jamil.

Narasumber :
1. Ali Jamil, Ph.D – Kepala Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian
2. Kepala BUTTMKP, drh. Wawan Sutian, MSi – Kepala Balai Uji Terap Teknik dan Metoda Karantina Pertanian

…https://www.facebook.com/badankarantinapertanian/posts/1922068064560956?__tn__=K-R

Banyak Miliki Komoditas Unggulan, Kab. Bandung Ekspor Perdana Jahe ke Bangladesh

Banyak Miliki Komoditas Unggulan, Kab. Bandung Ekspor Perdana Jahe ke Bangladesh

Rilis Kementan, 30 Juni 2019
510/R-KEMENTAN/06/2019

Bandung – Kabupaten Bandung merupakan salah satu wilayah produktif penghasil komoditas hortikultura di Indonesia. Sudah tak asing jika Kabupaten Bandung mengekspor sayuran dan buah-buahan, karena potensi alamnya yang sangat mendukung. Dan kini kab. Bandung juga menambah daftar komoditas ekspornya dengan mengekspor rempah jahe.

“Berkat budidaya hortikultura yang baik, hari ini kami mengawal jahe dari Kabupaten Bandung untuk pertama kalinya masuk pasar Bangladesh,” ujar Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) saat melepas ekspor 54 ton jahe senilai 680 juta di Rancaekek, Kabupaten Bandung, Minggu (30/6).

Berdasarkan data sistem otomatisasi perkarantinaan, IQFAST di unit pelaksana teknis Bandung, total nilai ekonomi ekspor komoditas pertanian di Bandung tahun 2018 tercatat mencapai Rp. 1,6 triliun. Sementara di pertengahan tahun 2019 nilai ekspor komoditas pertanian telah mencapai Rp. 3,3 triliun. “Alhamdulillah, baru setengah tahun tapi sudah bisa tembus hampir 300 persen dari capaian ekspor tahun 2018,” ucapnya dengan bangga.

Menurut Jamil, seluruh jajaran di Kementerian Pertanian termasuk Barantan sesuai instruksi Menteri Pertanian, Amran Sulaiman untuk terus melakukan terobosan dan inovasi untuk mengakselerasi dan meningkatkan ekspor komoditas pertanian. strategi agar akselerasi ekspor dapat meningkat.

Jamil menambahkan pihaknya mendorong ekspor dengan 4 kebijakan operasional perkarantinaan yakni melakukan pemeriksaan karantina di gudang pemilik, inline inspection agar proses bisnis ekspor selain lebih terjamin juga lebih cepat, memberikan Layanan Prioritas bagi pelaku eksportir yang patuh karantina. selanjutnya adalah memperluas akses pasar melalui protokol karantina, manajement risk analysis (MRA), kerjasama bilateral dan multilateral lainnya.

Barantan juga telah menerapkan sertifikat elektronik, e-Cert ke negara tujuan ekspor yang telah memilki kesiapan sistem ini. Dengan e-Cert, negara tujuan telah mendapatkan informasi teknis komoditas yang akan diekspor sebelum produk tiba, setelah sesuai dan disetujui seluruh persyaratan Sanitary and Phytosanitary, SPS yang disetujui komoditas dapat diberangkatkan. “Ini akan mempercepat dan produk yang diekspor terjamin diterima, tidak akan ditolak saat tiba,” jelas Jamil.

Kepala Karantina Pertanian Bandung, Iyus Hidayat memaparkan selain jahe yang di ekspor, pada saat yang bersamaan dilakukan ekspor Kopi sebesar 19,2 ton dengan nilai Rp. 1.64 milyar tujuan Korea Selatan dan makanan kering tujuan Philipina sebanyak 210 ton senilai 6.6 milyar.

Meski makanan kering tidak termasuk komoditas pertanian, namun Iyus menjelasksn bahwa ini sesuai dengan negara tujuan yang mempersyaratkan adanya jaminan kesehatan dan keamanan, Phytosanitary Certificate.

“Barantan sebagai trade tools facilities bertugas untuk mengawal komoditas pertanian yang di ekspor. Ini langkah nyata untuk mewujudkan mimpi kita bersama menjadikan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia di tahun 2045,” tutup Jamil.

Narasumber :
1. Ir. Ali Jamil, MP, Ph.D – Kepala Badan Karantina Pertanian
2. Ir. Iyus Hidayat, MP – Kepala SKP Kelas 1 Bandung

…https://www.facebook.com/badankarantinapertanian/posts/1918753524892410?__tn__=K-R

Karantina Pertanian dan Kicau Mania, Bersinergi Jaga Negeri

Karantina Pertanian dan Kicau Mania, Bersinergi Jaga Negeri

Tanjungpinang – Bagi Kicau mania, pameran burung berkicau merupakan event yang sangat ditunggu. Dalam rangka Bulan Bakti 2019, Karantina Pertanian Tanjungpinang bekerjasama dengan komunitas Sahabat Kicau Mania mengadakan kegiatan Pameran Burung Berkicau. Tentu saja, terselip sosialisasi tentang perkarantinaan di dalamnya.

Pameran burung berkicau diadakan pada Minggu (30/06) di lapangan K2 KM. 5 Tanjungpinang. Lokasi acara cukup strategis dan terletak di tengah Kota Tanjungpinang.

Pameran Burung Berkicau kali ini dihadiri oleh berbagai komunitas pecinta burung dari kota Tanjungpinang dan sekitarnya. Diharapkan, karantina pertanian semakin dikenal masyarakat, terutama komunitas pecinta burung.

Kicau Mania, yuk jaga sama-sama kelestarian alam Indonesia.

#LaporKarantina
#KarantinaPertanianTanjungpinang

…https://www.facebook.com/694239624010479/posts/1920426848058411/

Terdeteksi Virus Berbahaya, Kementan Musnahkan Ribuan Bibit Bunga Lili Asal Belanda

Terdeteksi Virus Berbahaya, Kementan Musnahkan Ribuan Bibit Bunga Lili Asal Belanda

Rilis Kementan, Sabtu, 22 Juni 2019
/R-Kementan/06.2019

Bandung – Kementerian Pertanian (Kementan) lewat Badan Karantina Pertanian (Barantan) memusnahkan 272.300 benih bunga lilium (berupa umbi) yang terindikasi mengandung Strawberry Latent Ringspot Virus (SLRV) dan bakteri Rhodococcus fascians. Umbi tersebut diimpor dari Belanda yang juga sudah dilengkapi dengan phytosanitary certificate yang diterbitkan oleh Otoritas Karantina Belanda. “Setelah dilakukan pengujian laboratorium, ternyata hasilnya positif,” kata Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian saat melakukan pemusnahan benih lilium terinfeksi virus dan bakteri tersebut di Pengalengan, Kabupaten Bandung (22/6).

Hasil uji dari laboratorium Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian menyatakan bahwa media pembawa organisme pengganggu tumbuhan karantina tersebut positif mengandung bakteri dan virus OPTK A1 golongan 1. OPTK A1 golongan 1 tersebut artinya bahwa hama dan penyakit tersebut belum ada di Indonesia dan tidak dapat dilakukan tindakan karantina perlakuan untuk mengeliminasinya dari komoditas tersebut. “Kita akan mengirimkan NNC (Notification of Non Compliance) ke negara asal,” tegas Jamil.

NNC tersebut dimaksudkan sebagai bentuk protes pemerintah Indonesia atas kualitas jaminan otoritas karantina negara asal terhadap pemenuhan aspek kesehatan komoditas yang dikirim. Benih lilium yang dimusnahkan sebanyak 7 varietas, yaitu Cassini, Conca Dor, Corvara, Ctystal Blanca, Lake Carey, Motezuma, dan Sorbonne sebanyak 18,8 ton. Benih tersebut masuk lewat jalur laut di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Setelah dilakukan pemeriksaan di pelabuhan, benih dikawal untuk masuk instalasi karantina tumbuhan di Pengalengan, Kab. Bandung. Sebelum hasil laboratorium keluar dan dinyatakan sehat, benih tidak diperbolehkan untuk ditanam.

Wawan Sutian, Kepala Karantina Semarang menjelaskan bahwa SLRV merupakan salah satu patogen dari golongan virus yang memiliki sebaran inang yang cukup luas dengan wilayah sebar hampir di seluruh di Eropa termasuk Belanda. Virus ini bisa menyerang timun, seledri, dan anggur. “Bahkan serangan SLRV tanpa gejala yang kasat mata,” jelas Wawan. Sedangkan bakteri Rhodococcus fascians merupakan patogen gologan bakteri Gram positif yang memiliki kisaran inang yang sangat luas mencapai hingga 87 genus dalam 40 famili tanaman. Bisa menyerang kol, strawberry, kedelai, kentang, dan tomat.

Menurut Wawan, di Rusia serangan pada tanaman strawberi oleh bakteri Rhodococcus fascians dapat mengurangi hasil antara 28-38 % (CABI, 2013). Produksi strawberry Indonesia tahun 2012 menurut data BPS (2013) adalah 170.081 ton. Jika serangan bakteri ini dapat menurunkan hasil hingga 38% maka penurunan produksi stroberi diperkirakan sebanyak 64.630 ton/tahun. Jika harga buah strawberi Rp10.000/kg dapat diasumsikan kerugian ditingkat petani dapat mencapai Rp646.300.000 per tahun. Sedangkan serangan SLRV, dari hasil kajian dapat menyebabkan kehilangan hasil akibat infeksi OPT tersebut di UK bervariasi antara 20-30%

Kepala Barantan, Jamil menekankan bahwa kerugian akibat masuknya hama penyakit ke Indonesia tidak hanya dalam hitungan nilai komoditasnya. Namun juga kerugian ekonomi akibat penurunan produksi, upaya eliminasi dan dampak bagi para petani. “Ini berbahaya, apalagi sekarang kita sedang menggalakkan akselerasi ekspor produk pertanian,” pungkasnya.

Narasumber
1. Ir. Ali Jamil, M.P., Ph.D – Kepala Badan Karantina Pertanian
2. drh. Wawan Sutian, M.Si. – Plt. Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang

https://www.facebook.com/694239624010479/posts/1905750912859338?sfns=mo

 

Teknologi Biosensor, Harapan Baru Pelaksanaan Tindakan Karantina Pertanian

Teknologi Biosensor, Harapan Baru Pelaksanaan Tindakan Karantina Pertanian

Jakarta – Ke depan, pemeriksaan karantina tak butuh waktu lama. Seperti alat pemindai yang mendeteksi jenis barang di kasir supermarket, petugas karantina juga diharapkan bisa mendeteksi penyakit dengan mengarahkan sensor ke komoditas yang dibawa.

Di berbagai kesempatan, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) menyampaikan keinginannya agar Barantan melakukan pengkajian dan penelitian baik dengan akademisi maupun intitusi lain untuk membuat alat deteksi penyakit dalam bentuk biosensor.

“Salah satu teknologi yang telah berkembang saat ini adalah biosensor. Kecanggihan teknologi adalah suatu keharusan yang tidak terbendung dan selalu terjadi inovasi di semua sektor kehidupan tidak terkecuali sektor pertanian,” ujar Sriyanto, Kepala Karantina Pertanian Uji Standar.

Banyak inovasi yang muncul untuk membantu pekerjaan. Salah satu contoh di dunia pertanian yaitu sensor untuk menentukan jenis tumbuhan, komposisi zat kimia dalam tanah, hingga status kesehatan tumbuhan.

Barantan melalui Kerantina Pertanian Uji Standar bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) mengadakan workshop pemanfaatan teknologi biosensor untuk mendukung pelaksanaan tindakan karantina pertanian (18/6). Acara ini bertujuan untuk mendapatkan masukan dan konsepsi secara komprehensif tentang pemanfaatan teknologi sensor untuk mendukung pelaksanaan tindakan karantina pertanian.

Semoga dalam waktu dekat, penelitian biosensor dapat dilakukan dan hasilnya bisa diterapkan di seluruh kantor pelayanan karantina di Indonesia.

#LaporKarantinaPertanian
#KarantinaPertanianUjiStandar

Teknologi Biosensor, Harapan Baru Pelaksanaan Tindakan Karantina PertanianJakarta – Ke depan, pemeriksaan karantina…

Posted by Badan Karantina Pertanian on Wednesday, June 19, 2019

Selamatkan Nyawa Banyak Penumpang, 5 liter Solar Berkedok Madu Gagal Terbang

Selamatkan Nyawa Banyak Penumpang, 5 liter Solar Berkedok Madu Gagal Terbang

Jambi – Petugas Karantina Pertanian Jambi (13/06) berhasil menyelamatkan ratusan penumpang pesawat. Berawal dari kecurigaan petugas karantina ketika salah satu ekspedisi berniat mengirimkan madu sebanyak 5 liter tujuan Jakarta dan dilaporkan ke petugas. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas ternyata isinya cairan bahan bakar yaitu solar.

Pasalnya, bahan bakar solar merupakan salah satu barang yang sangat dilarang untuk dibawa dengan alat angkut pesawat komersial. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan No.127 tahun 2015.

Solar dikemas dalam jerigen berukuran 5 liter dan dibungkus kardus serupa paket madu pada umumnya. “Kejadian ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya pemeriksaan fisik oleh petugas karantina untuk mengetahui kebenaran isi dan kesesuaian jumlah komoditas pertanian yang akan dilalulintaskan. Agar sesuai amanah Undang-undang No.16 tahun 1992 tentang karantina hewan, ikan dan tumbuhan serta Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2000,” ujar Hendra Purwana, Kepala Seksi Karantina Hewan Jambi.

#LaporKarantinaPertanian
#KarantinaPertanianJambi
#142KarantinaMelayani
#BeraniEkspor

…https://www.facebook.com/694239624010479/posts/1893393747428388/

Modus, Penyelundupan Kadal Berkedok Makanan

Modus, Penyelundupan Kadal Berkedok Makanan

Ternate – Sepuluh Kadal Panana gagal diselundupkan dari Ternate ke Jakarta, pagi ini (12/06). Kadal tersebut terdeteksi oleh petugas AVSEC cargo Bandara Sultan Babullah Ternate saat melewati X-ray.

Kadal terbungkus rapi dalam kemasan kardus. Kepada pihak ekspedisi, pemilik mengaku isinya makanan. Ternyata, di dalamnya ditemukan 10 ‘anak’ Kadal Panana. Pihak AVSEC segera melaporkannya ke petugas Karantina Ternate Wilker Bandara Sultan Babullah.

“Ini bukan modus baru. Sudah beberapa kali penyelundupan berkedok makanan. Untungnya, koordinasi karantina dengan pihak terkait cukup bagus sehingga penyelundupan ini bisa digagalkan,” terang Setyawan Pramularsih, Kepala Seksi Karantina Hewan Ternate.

Kadal Panana segera diserahkan ke BKSDA Ternate setelah diperiksa dan dinyatakan sehat oleh dokter hewan karantina. SobatQ, negeri ini kan milik kita semua. Jangan korbankan kelestariannya demi keuntungan pribadi semata. Yakin, tidak berkah itu. Sepakat?

#LaporKarantinaPertanian
#KarantinaPertanianTernate
#142KarantinaMelayani
#BeraniEkspor

…https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1889804221120674&id=694239624010479

0
Connecting
Please wait...
Kirim Pesan

Silakan tinggalkan pesan.

Nama Anda
* Email
* Isi Pesan Anda
Login

Butuh Bantuan lain? Kirim Email ke bkp2tpi@yahoo.co.id.

Nama Anda
* Email
* Isi Pesan
Kami Online!
Feedback

Help us help you better! Feel free to leave us any additional feedback.

How do you rate our support?