40,5 Ton Teh di Periksa Karantina Tanjungpinang

40,5 Ton Teh di Periksa Karantina Tanjungpinang

Harumnya teh (Camelia sinensis) sering tersaji hampir disetiap waktu di kedai kopi maupun cafe Kota Tanjungpinang. Saat nongkrong santai, maupun sedang menikmati menu hidangan lain tak lengkap tanpa teh ‘O atau teh Obeng. Meskipun Kepri tidak memiliki kebun teh, tapi teh yang diproduksi oleh PT. PANCA RASA memiliki aroma yang khas dan menjadi primadona di Propinsi Kepri.

Lalu darimana bahan bakunya? Karantina Tanjungpinang (09/04) melakukan pemeriksaan di IKT PT. PANCA RASA atas pemasukan serbuk teh asal Jakarta sebanyak 40,5 ton, dan diketahui bahwa bahan baku teh tersebut diproduksi di pulau jawa.

Ilham Mustafa salah satu petugas Karantina Tanjungpinang mengatakan “Salah satu tindakan karantina adalah Pemeriksaan. Sample teh yang diambil akan diperiksa di laboratorium, apabila dinyatakan bebas dari serangga Empoasca onukii sebagai OPTK targetnya maka teh tersebut akan dilakukan pembebasan”.

Perlu diketahui bahwa masuknya teh ke Tanjungpinang melalui pelabuhan Sri Payung Batu Enam ini dilakukan pemeriksaan kesehatan setelah petugas menerima laporan pemasukannya oleh pemilik barang yang disertai dengan dokumen manifes kapal dan invoice. demikian Natalina menambahkan.

SobatQ, sesuai amanah dari UU no.16 tahun 1992, marilah kita menjaga kelestarian biodiversity dan keamanan pangan dengan melaporkan komoditas pertanian yang dilalulintaskan.

Rakor Lintas Sumatera, Upaya Karantina Tanjungpinang Pertahankan Status Bebas Penyakit Jembrana

Rakor Lintas Sumatera, Upaya Karantina Tanjungpinang Pertahankan Status Bebas Penyakit Jembrana

Tanjungpinang – Dalam mencegah masuk dan tersebarnya penyakit Jembrana di Kepulauan Riau, Karantina Tanjungpinang gelar Rapat Koordinasi Lintas Instansi se-Sumatera di CK Hotel Tanjungpinang, Senin (15/4) kemarin.

Ketergantungan masyarakat Kepulauan Riau (Kepri) terhadap bahan produk pertanian dari luar daerah seperti beras, daging, telur, sayuran dan bahan pangan lainnya masih sangat tinggi. Terlebih akan kebutuhan daging sapi, masyarakat Tanjungpinang masih mengandalkan sapi yang berasal dari Sumatera Selatan. Dalam sambutannya, Donny Muksidayan selaku Kepala Karantina Tanjungpinang menyampaikan bahwa berdasarkan data dari Balai Veteriner Bukittinggi dan Lampung, ditemukan kasus penyakit Jembrana di wilayah tersebut.

Penyakit jembrana merupakan penyakit menular akut pada sapi yang disebabkan oleh retrovirus, keluarga lentivirinea yang termasuk dalam famili retroviridae. Salah satu gejala penyakit jembrana adalah munculnya keringat darah pada sapi. “Saat ini, status penyakit jembrana masih bebas, jika penyakit ini masuk ke Kepri, akan menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar sehingga kita harus selalu waspada,” jelas Donni.

Syahrul, Walikota Tanjungpinang yang hadir membuka rakor ini berharap akan ada tindak lanjut sehingga kesehatan daging sapi yang masuk ke Kepri bisa terjamin dan layak dikonsumsi oleh masyarakat.

Agus Sunanto, Kepala Pusat Karantina Hewan – Badan Karantina Pertanian mengatakan karantina di seluruh Indonesia khususnya Karantina Tanjungpinang akan selalu siap mencegah masuk dan tersebarnya penyakit hewan di wilayah Tanjungpinang.

Rakor ini dihadiri oleh instansi terkait di daerah Tanjungpinang, UPT Karantina lingkup Sumatera dan Kepulauan Riau serta pengguna jasa setempat.

Cegah Penyeludupan, Karantina Tanjungpinang Rapatkan Barisan

Cegah Penyeludupan, Karantina Tanjungpinang Rapatkan Barisan

Tanjungpinang – Tanjung Uban yang terletak diujung pulau Bintan merupakan wilayah kerja yang keberadaannya cukup rawan. Sehingga daerah ini menjadi perhatian Karantina Tanjungpinang untuk diperkuat. Banyaknya pelabuhan tikus menjadi peluang besar terjadinya penyeludupan komoditas pertanian, karenanya pengawasan dilaut perlu dimaksimalkan.

Upaya mencegah penyelundupan terus dilakukan Karantina Tanjungpinang. Tentu saja dengan merapatkan barisan bersama instansi terkait lainnya. Seperti yang dilakukan pada hari Kamis lalu (11/04). Kepala Karantina Tanjungpinang, Donny Muksydayan berbincang dengan Komandan Fasharkan, Komandan Satkat, Komandan Satran, KPLP Tanjung Uban, Kesyahbandaran Tajunjung Uban, ASDP Tanjung Uban, BKIPM Tanjungpinang, Hanggar Bea Cukai Tanjung Uban, Babinsa, Dinas Perhubungan dan PT. Jembatan Nusantara.

Menurut Donni Muksydayan, “Kegiatan seperti ini penting untuk diselenggarakan dan agar terus berkelanjutan. Sebagai sesama alat negara semua petugas dapat saling bersinergi demi NKRI.”

Komandan Fasharkan selaku Kolonel Laut Teknik Mulyatna mengatakan, “Permasalahan di dunia ini dapat diselesaikan dengan dua cara, administrasi dan komunikasi atau koordinasi. Namun komunikasi lah yang paling penting.”

Harapannya komunikasi bisa lebih terbina dengan baik. Sehingga pengawasan dapat secara maksimal untuk mencegah terjadinya penyelundupan komoditas pertanian.

Indonesia Rasa Maldives, Karantina Tetap Ada

Indonesia Rasa Maldives, Karantina Tetap Ada

Tanjungpinang – Tak perlu ke Maldives kalau hanya ingin menikmati menginap di resort mewah tepi pantai. Indonesia punya, Lagoi namanya. Bahkan, SobatQ bisa merasakan sensasi kolam renang air laut, terbesar se-Asia Tenggara. Penasaran? Coba cari di peta, di mana letaknya dan segera lihat tanggal merah di kalender.

Indah dan alami, menawan dan elegan. Itu yang membuat Lagoi menjadi destinasi wisata unggulan. Rata-rata, 2.000 wisatawan masuk tiap hari. Itu baru yang dari 2 pelabuhan ferry dan 1 pelabuhan yacht. Belum yang masuk melalui kapal pesiar tiap akhir pekan. Sekali masuk 4.000 turis.

Layaknya orang yang sedang melakukan perjalanan, bekal para turis itu pasti banyak. Kita aja kalau bepergian suka bawa makanan serantang-rantangnya. Yah, beda-beda tipis sih antara ingin makanan sehat sama ngirit. Yang jelas, pasti banyak komoditas yang wajib dilaporkan karantina. Contohnya, buah, sayur, telur, dan daging. Padahal komoditas itu kan tak boleh sembarangan masuk Indonesia. Takutnya bawa penyakit dari negara asalnya sana. Nah, disinilah peran karantina.

“Pengelola Lagoi harus memperhatikan soal ini, mendukung dan membesarkan petugas border seperti karantina, bea cukai, dan imigrasi. Kami melayani dan mengawasi, tanpa mengurangi kenyamanan para turis,” kata Donni, Kepala Karantina Tanjungpinang saat mengadakan kordinasi dengan pihak pengelola kawasan wisata Lagoi pada hari Jumat lalu (5/4).

Pertemuan yang juga dihadiri perwakilan dari pihak hotel dan pelabuhan ini membahas permasalahan serta pengawasan pemasukan komoditas pertanian yang dibawa masuk turis maupun pihak hotel untuk kebutuhan restoran.

“Kami siap mendukung dan memberikan fasilitas kepada pihak karantina untuk menjalankan tugasnya di Lagoi,” kata Edi Mata, senior Manager Area Lagoi.

Mendukung upaya Karantina Tanjungpinang menguatkan fungsi pengawasan, pihak pengelola Kawasan Lagoi akan memfasilitasi sarana pemusnahan untuk komoditas pertanian yang disita petugas. Bukan buat nakut-nakutin wisatawan ya ini, tapi biar Indonesia tetap sehat.

Temukan 35 Ton Jagung Tak Bertuan di Pelabuhan Sungai Enam, Karantina Tanjungpinang Siap Usut Tuntas

Temukan 35 Ton Jagung Tak Bertuan di Pelabuhan Sungai Enam, Karantina Tanjungpinang Siap Usut Tuntas

Tanjungpinang – Meningkatnya kebutuhan masyarakat akan bahan pangan tidak serta merta diikuti oleh peningkatan kesadaran masyarakat untuk selalu lapor karantina. Kemudahan dalam pelayanan karantina pun tidak lantas mengurangi tingkat pelanggaran karantina. Berbagai cara dilakukan untuk mengelabui petugas, bahkan modusnya pun semakin beragam.

Rabu kemarin (03/04) Karantina Tanjungpinang melakukan patroli ke beberapa pelabuhan yang tidak resmi (pelabuhan tikus) di seputaran daerah Kijang, Bintan. Saat tim Patroli yang dipimpin langsung oleh Donni Muksidayan, Kepala Karantina Tanjungpinang bergerak ke Pelabuhan Sungai Enam. Pelabuhan ini memang letaknya agak tersembunyi dan jauh dari pemukiman. Petugas mencurigai adanya pelanggaran karantina disini.

Benar saja, petugas mendapati aktivitas bongkar komoditas pertanian dari kapal. Segera tim patroli mendekat dan memeriksa, ternyata yang diturunkan dari KLM. Kepayang adalah jagung biji dan dedak padi. Awalnya semua buruh bongkar tidak ada mau memberitahu siapa pemilik barang tersebut. Tidak mau kehilangan akal, akhirnya petugas bergerak mengikuti truck yang mengangkut jagung tersebut sampai ke gudang pemilik.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, jagung sebanyak 35 ton tersebut berasal dari Palembang yang dimuat melalui Pelabuhan Kuala Tungkal, Jambi.

“Kita akan segera melakukan pemanggilan kepada pemilik untuk dimintai keterangan mengenai 35 ton jagung biji ini yang diduga berasal dari Palembang,” ungkap Donni.

“Sampai saat ini, pemilik belum bisa dimintai keterangan karena sedang berada diluar kota. Jagung ini sementara kita tahan di gudang pemilik dan kita akan segera mengusut tuntas kasus ini,” imbuhnya.

Masuk Tanpa Dokumen, Karantina Tanjungpinang Tolak Reptil

Masuk Tanpa Dokumen, Karantina Tanjungpinang Tolak Reptil

Tanjungpinang – Saat ini banyak hobby yang bisa kita geluti, dari makan, otomotif, fishing, nge-game sampai jalan-jalan ke ujung dunia pun dilakoni karena hobby. Saat ini, memelihara hewan menjadi salah satu hobby yang sedang ngetrend. Bahkan sampai diperlombakan dengan berbagai kategori. Kalau sudah hobby berapa pun rupiah yang dikeluarkan tidak akan terasa berat.

Namun… tahukah anda bahwa hobby merawat satwa harus juga peduli dengan kelestarian dan kesehatannya??? Jika tidak, SobatQ bisa berurusan dengan penegak hukum.

Jumat lalu (29/03) Karantina Tanjungpinang melakukan penolakan reptil jenis ular sebanyak 8 ekor dan 1 ekor biawak ke Riau. Reptil-reptil ini masuk ke Tanjungpinang tanpa disertai dengan sertifikat kesehatan dari daerah asal maupun dokumen persyaratan lainnya. “Setelah ditahan selama masa karantina pemilik tidak dapat memenuhi dokumen yang dipersyaratkan maka ular ini dikembalikan ke daerah asalnya,” demikian Apen memberi penegasan saat penyerahan dokumen penolakan.

Ainal Ikram selaku petugas PPNS menjelaskan, sesuai dengan UU No. 16 Tahun 1992 pasal 6 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, bahwa setiap media pembawa hama penyakit hewan yang dilalulintaskan antar wilayah wajib disertai dengan sertifikat kesehatan, melalui tempat pemasukan yang ditetapkan, dan dilaporkan kepada petugas. Pemilik reptil ini telah melanggar peraturan perkarantinaan, sehingga kepada pelaku dilakukan pemeriksaan dan pulbaket, namun karena pemilik masih memiliki etikat baik pada saat pemeriksaan dan berdasarkan laporan hasil identifikasi dari BKSDA dengan nomor surat laporan S.211/K.6/BKWI/KSKWII/KSA.2.2/2019 reptil tersebut bukanlah termasuk satwa yang dilindungi dalam undang-undang, sehingga dilakukab tindakan penolakan ke daerah asalnya.

SobatQ harus ingat, bahwa setiap lalu lintas komoditas pertanian baik berupa hewan, tumbuhan dan produk turunannya wajib dilaporkan kepada petugas karantina untuk dilakukan tindakan karantina. Patuhi aturannya untuk kenyamanan dan kelestarian biodiversity.

Bintan Ekspor Lempengan Karet ke Lima Negara

Bintan Ekspor Lempengan Karet ke Lima Negara

Rilis Kementan, 8 Maret 2019
166/R-KEMENTAN/3/2019

Bintan Ekspor Lempengan Karet ke Lima Negara

Tanjung Pinang, Kepri – Komoditas Karet di Pulau Bintan kini jadi harapan. Tidak saja bagi petani, pelaku agribisnis namun juga bagi pemerintah untuk meraup devisa.

“Ini sejalan dengan instruksi Presiden, untuk mendorong neraca perdagangan kita dengan gencarkan ekspor non migas,” kata Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian saat menyerahkan Surat Kesehatan Tumbuhan atau Phytosanitary Certificate, PC kepada PT. PBD di Tanjung Pinang, Jumat (8/3).

Penyerahan PC yang juga merupakan pelepasan karet ekspor berbentuk lempengan kali ini, berjumlah 1.048 ton dengan nilai setara dengan Rp 19 milyar atau USD 1,3 ribu. Ada 5 (lima) negara tujuan ekspor masing-masing Amerika Serikat, Korea, Kanada, Cina dan Italia.

Bintan selama ini dikenal kaya akan mineral Bauksit yang membuat tanah di sana menjadi kurang subur. Tetapi itu cerita lama. Pasalnya tanaman karet kini dapat tumbuh subur dan berproduksi dengan baik bahkan surplus sehingga dapat diekspor ke manca negara.

“Ini terjadi atas kerjasama yang baik antara pemerintah pusat, daerah dan juga para petani serta pelaku agribisnis. Tanaman karet dapat tumbuh dengan baik hingga dapat bersanding sebagai komoditas unggulan ekspor bersama bauksit”, ujar Ali Jamil.

Sementara itu, Kepala Karantina Pertanian Tanjung Pinang, Donny Muksydayan menyampaikan bahwa berdasarkan data Sistem Lalulintas Perkarantinaan di wilayahnya, di tahun 2018 tercatat ekspor Karet Hevea brasiliensis sebanyak 14,9 ton. Setara dengan Rp 268,3 miliar.

*_Perkuat Sistem Perkarantinaan Berorientasi Ekspor_*

Bersamaan dengan pelepasan karet, dilakukan juga sertifikasi ekspor untuk komoditas pertanian lain. Masing-masing babi potong dari hasil peternakan PT. Indo Tirta Suaka di Pulau Bulan dengan tujuan ekspor ke Negara Singapura sebanyak 2.505 ekor setara dengan nilai Rp 8 miliar.

Donny juga menambahkan keterangan di tahun 2018, ekspor Babi asal Pulau Bulan tujuan Singapura berjumlah 270.832 ekor dengan nilai ekonomi setara dengan Rp 866,7 milyar. Komoditas arang dengan tujuan Malaysia dengan nilai 127 juta rupiah dengan bobot 8.5 ton juga dilakukan sertifikasinya pada hari yang sama.

“Penguatan kesisteman perkarantinaan menjadi sangat penting, hasil pemeriksaan melalui laboratorium yang terakreditasi dapat menjadi jaminan produk pertanian kita diterima di pasar global,” jelas Donny.

Gubernur Kepulauan Riau, Nurdin Basirun dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap upaya pembangunan pertanian dari Kementerian Pertanian khususnya dalam peningkatan ekspor. Nurdin juga menginstruksikan jajarannya yakni dinas pertanian dan tanaman pangan serta dinas pariwisata untuk terus lakukan sinergisitas dengan Karantina Petanian dalam mendorong ekspor, agar petani di Kepri semakin sejahtera.

Keuntungan demografi yang dekat dengan negara tetangga, Singapura yang tidak memiliki kekayaan sumber daya alam hayati sebanyak Kepulauan Riau, tentunya ini menjadi peluang tersendiri.

“Pasar sudah tersedia, peluang terbuka lebar. Mari bersama, kita galakkan ekspor komoditas pertanian asal Pulau Bintan. Pemeriksaan, pengawasan dan juga bimbingan teknis memasuki pasar global, siap kami kawal,” kata Nurdin Basirun semangat.

Acara yang diselenggarakan di Wilayah Kerja Bandar Udara Haji Fii Sabillilah, Tanjung Pinang ini juga turut di hadiri oleh Bupati Bintan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Dinas Pariwisata, petani dan para pelaku usaha di bidang agribisnis.

_Biro Humas dan Informasi Publik_
*Kementerian Pertanian*

_Narasumber_
1. Ali Jamil, PhD – Kepala Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian
2. drh. Donny Muksydayan, MSi – Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjungpinang

0
Connecting
Please wait...
Kirim Pesan

Silakan tinggalkan pesan.

Nama Anda
* Email
* Isi Pesan Anda
Login

Butuh Bantuan lain? Kirim Email ke bkp2tpi@yahoo.co.id.

Nama Anda
* Email
* Isi Pesan
Kami Online!
Feedback

Help us help you better! Feel free to leave us any additional feedback.

How do you rate our support?