Jelang Lebaran, Karantina Tanjungpinang Koordinasikan Layanan Publik

Jelang Lebaran, Karantina Tanjungpinang Koordinasikan Layanan Publik

Tanjungpinang, (02/06). Dalam rangka persiapan menghadapi lonjakan penumpang pada lebaran nanti, kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kijang, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau mengadakan rapat koordinasi bersama instansi terkait seperti PT. PELNI, PELINDO 1, Polsek Kijang, Karantina Tanjungpinang, Karantina Kesehatan, Dinas Perhubungan dan Bea Cukai. Rapat koordinasi membahas kesiapan dari masing masing instansi dalam menghadapi musim mudik lebaran.

Karantina Tanjungpinang sendiri, sebagaimana disampaikan Kepala Balai, drh. Fadjar Agus, telah mengalokasikan personil tambahan untuk meningkatkan pengawasan lalu lintas media pembawa HPHK dan OPTK di pelabuhan yang diperkirakan akan mengalami lonjakan penumpang signifikan pada mudik lebaran tahun ini. Melalui sinergitas antar instansi diharapkan dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi calon pemudik.

Karantina Tanjungpinang Buka Puasa Bersama

Karantina Tanjungpinang Buka Puasa Bersama

Tanjungpinang (4/6) Dalam menjalin silahturahmi dan memupuk rasa keberasamaan Keluarga Besar Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjungpinang melaksanakan acara buka bersama sekaligus arisan bulanan pada hari Sabtu (3/6) di bulan ramadhan ini.

Dalam acara buka bersama ini, juga diisi dengan tausiah yang dapat menambah semangat spritiual bagi keluarga besar karantina tanjungpinang menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Selain tausiah dan buka bersama, juga dilaksanakan shalat magrib bersama sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

Dedikasi Kami untuk Pancasila

Dedikasi Kami untuk Pancasila

Tanjungpinang, 1/06. Bertepatan dengan hari lahir pancasila, tanggal 1 juni 2017. Pengawasan terhadap lalu lintas media pembawa HPHK dan OPTK di pelabuhan Kijang terus dilakukan. Pengawasan dilakukan terhadap kedatangan kapal PELNI KM. Umsini dari Jakarta. Memasuki bulan ramadhan ini jumlah penumpang kapal tujuan Kijang, Kepulauan Riau mengalami peningkatan. Sehingga diperlukan pengawasan ekstra terhadap barang bawaan yang mereka bawa. Pengawasan ini juga merupakan wujud nyata pengamalan pancasila untuk menjaga kedaulatan negeri dari ancaman masuk dan tersebarnya HPHK maupun OPTK.

Cegah tangkal Karantina Tanjungpinang terhadap Flu Burung (Avian Influenza)

Cegah tangkal Karantina Tanjungpinang terhadap Flu Burung (Avian Influenza)

Apa dan Bagaimana Flu Burung (AI) ??

Penyakit Influenza pada unggas (Avian Influenza/AI) atau Flu Burung adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Influenza tipe A dari family Orthomyxoviridae. Virus ini dapat menimbulkan gejala pernapasan pada unggas, mulai yang ringan (Low Pathogenic Avian Influenza/LPAI) sampai yang bersifat fatal (Highly Pathogenic Avian Influenza/HPAI). HPAI merupakan penyakit yang sangat menular dan masuk dalam daftar List A Badan Kesehatan Hewan Dunia yang dapat menular ke manusia (zoonosis).

Sumber Virus

Virus antara lain terdapat pada faeces, cairan saluran pernapasan dan air yang terkontaminasi virus. Unggas (ayam, burung dan itik) merupakan sumber penularan virus Avian Influenza. Kebanyakan virus Avian Influenza diisolasi dari itik, disamping itu juga dari spesies yang lain. Kebanyakan burung juga dapat terinfeksi, termasuk burung liar dan unggas air.

Bagaimana Penularan dan Penyebaran Penyakit Flu Burung ??

  • Cairan / lender yang berasal dari hidung, mulut dan mata
  • Dari kotoran unggas yang sakit
  • Kontak langsung dengan ternak yang sakit
  • Melalui udara, percikan cairan / lender dan muntahan cairan
  • Air dan peralatan yang terkontaminasi virus flu burung
  • Selain itu, penyebaran virus flu burung dapat melalui kontak dengan unggas yang sakit, telur dan pakan yang didistribusikan serta melalui alat transportasi yang tercemar flu burung.

Cara Penularan Flu Burung Melalui Kotoran Unggas yang Sakit

Tinja mengering dan hancur menjadi bubuk. Bubuk inilah yang kemudian dihirup oleh manusia atau hewan lainnya.

Gejala Klinis

Pada Unggas :

  • Jengger, pial, kulit perut yang tidak ditumbuhi bulu berwarna biru keunguan (sianosis)
  • Kadang-kadang ada cairan dari mata dan hidung
  • Pembengkakan di daerah muka dan kepala
  • Perdarahan di bawah kulit (sub cutan)
  • Perdarahan titik (ptechie) pada daerah dada, kaki dan telapak kaki
  • Batuk, bersin dan ngorok
  • Diare, dan
  • Kematian tinggi

Pada manusia :

  • Demam (suhu badan diatas 38 °C)
  • Batuk-batuk dan nyeri tenggorokan, nyeri otot
  • Sesak nafas
  • Radang paru (Pneumonia)
  • Infeksi mata
  • Pusing
  • Muntah
  • Diare
  • Keluar lender dari hidung
  • Tidak ada nafsu makan
  • Mual dan nyeri perut

Tindakan Karantina

Tindakan karantina yang dilakukan oleh Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjungpinang antara lain :

  1. Untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit HPAI ini ke dalam wilayah Republik Indonesia, maka dilarang memasukkan dan mengimpor burung, unggas dan produknya dari negara yang terjangkit HPAI seperti Hongkong, China, Meksiko, Pakistan, Australia dan beberapa negara di Eropa.
  2. Jika pada saat pelaksanaan tindakan karantina, ditemukan gejala penyakit HPAI. Maka seluruh media pembawa (unggas/burung atau produknya) harus dimusnahkan dibawah pengawasan dokter hewan karantina.
  3. Apabila membawa burung, unggas dan produknya dari suatu area ke area lain di dalam wilayah Negara Republik Indonesia wajib dilengkapi sertifikat kesehatan dari daerah asal dan dilaporkan kepada petugas karantina di tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran yang telah ditetapkan untuk keperluan tindakan karantina.
  4. Semua peralatan, kandang dan alat angkut harus dibersihkan dan di disinfeksi.
  5. Uji Rapid Test AI terhadap unggas yang masuk di tempat-tempat pemasukan/pengeluaran yang telah ditetapkan.
Pertahankan Provinsi Kepulauan Riau BEBAS RABIES

Pertahankan Provinsi Kepulauan Riau BEBAS RABIES

Apa itu Rabies dan Bagaimana Cara Penularannya ?

Rabies atau penyakit anjing gila adalah penyakit hewan yang menular yang disebabkan oleh virus yang dapat menyerang hewan berdarah panas dan manusia. Rabies merupakan penyakit zoonosis yang apabila menyerang manusia atau hewan akan selalu berakhir dengan kematian. Pada hewan yang menderita Rabies, virus ditemukan dengan jumlah yang banyak pada air liurnya. Virus ini akan ditularkan ke hewan lain atau manusia terutama melalui luka gigitan.

Media Pembawa Rabies

  1. Hewan yang rentan terhadap Rabies adalah bangsa anjing, kucing, kera, kelelawar dan karnivora liar.
  2. Bahan asal hewan sebagaimana disebutkan pada poin (1).
  3. Benda lain berupa bahan biologik (vaksin dan bahan diagnostik biologik), bahan patogenik (sampel otak) dan/atau biakan organisme (isolat virus).

Tanda-tanda Rabies pada Hewan

Tanda-tanda Rabies pada hewan ada 2 (dua) bentuk yaitu :

  1. Bentuk Diam (Dumb rabies)
  2. Terjadi kelumpuhan pada seluruh bagian tubuh.
  3. Hewan tidak dapat mengunyah dan menelan makanan, rahang bawah tidak dapat dikatupkan, dan air liur menetes berlebihan.
  4. Tidak ada keinginan menyerang atau menggigit, hewan akan mati dalam beberapa jam.
  5. Bentuk Ganas (Furious Rabies)
  6. Hewan agresif, tidak mengenal pemiliknya.
  7. Menyerang orang, hewan dan benda bergerak.
  8. Bila berdiri sikapnya kaku, ekor dilipat diantara dua paha belakang.

Tanda-tanda Rabies pada Manusia

  1. Rasa takut yang sangat pada air, peka terhadap cahaya, udara dan suara.
  2. Air mata dan air liur keluar berlebihan.
  3. Pupil mata membesar.
  4. Bicara tidak karuan, selalu ingin bergerak dan nampak kesakitan.
  5. Kejang-kejang lalu lumpuh dan akhirnya meninggal dunia. Umumnya penderita meninggal dunia dalam waktu 4-6 hari setelah gejala klinis.

Tindakan Karantina

Kepulauan Riau termasuk provinsi yang bebas dari penyakit Rabies. Oleh karena itu, Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjungpinang semaksimal mungkin berusaha menjaga Kepulauan Riau khususnya Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan dari masuknya Hewan Penular Rabies (HPR). Usaha tersebut didukung dan diperkuat oleh Pemerintah setempat dengan adanya Surat Edaran Gubernur Kepulauan Riau.

Tindakan karantina dalam mempertahankan Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan Bebas Penyakir Rabies adalah :

  1. Melarang pemasukan atau transit Media Pembawa Rabies berupa Hewan Penular Rabies seperti anjing, kucing, kera dan hewan sebangsanya ke dalam Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan.
  2. Melakukan penolakan ke daerah asal terhadap Media Pembawa Rabies yang masuk ke Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan.

Meningkatkan pengawasan baik di tempat pemasukan dan pengeluaran yang sudah ditetapkan maupun yang belum ditetapkan serta berkoordinasi dengan instansi terkait

Waspadai Ancaman Mematikan SALB pada Tanaman Karet

Waspadai Ancaman Mematikan SALB pada Tanaman Karet

Potensi Tanaman Karet Indonesia

Berdasarkan data statistik tahun 2009, Indonesia merupakan peringkat pertama untuk luas lahan karet (3,4 juta ha), unggul atas Thailand (2,67 juta ha) dan Malaysia (1,02 juta ha). Peringkat kedua untuk produksi karet alam dunia (2,4 juta ton/tahun) kalah dari Thailand (3,1 juta ton/tahun). Sentra produksi karet Indonesia ada di Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.. Arti penting karet dari aspek sosial ekonomi rakyat Indonesia yakni sebagai sumber devisa negara, sumber penghasilan petani dan lapangan pekerjaan yang potensial.

Apa itu Penyakit SALB ?

SALB (South American Leaf Blight) adalah penyakit mematikan yang menyerang tanaman karet. Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Microcyclus ulei. Tanaman yang terinfeksi penyakit ini, daun yang masih muda akan mengalami kelayuan, mengeriting dan berwarna kehitaman, akhirnya gugur sehingga tinggal menyisakan tangkainya saja (Agrios 2005).

Kerugian akibat Penyakit SALB

            Kerugian yang terjadi akibat penyakit SALB adalah dapat menurunkan produksi karet mentah sampai 70 % bahkan serangan parah dapat mengakibatkan tanaman karet mati sehingga tidak dapat berproduksi.

Gejala penyakit SALB

Sering tampak pada daun muda (layu, keriting, kehitaman lalu gugur). Terdapat massa konidia cendawan berwarna abu-abu, meluas dan akhirnya daun gugur. Pada daun tua terdapat konidia dan piknidia di atas dan di bawah permukaan daun berwarna abu-abu, mula-mula berbentuk cincin bulat berpigmen hitam. Gejala lanjutan menyebabkan mati ujung dan kanopi menjadi abnormal.

Penyebaran Penyakit SALB

Penyebaran penyakit SALB adalah dengan cara penyebaran spora/askospora melalui angin, percikan air hujan, serangga dan binatang lainnya. Terbawa tanaman yang terinfeksi, kontaminasi spora pada penumpang, barang bawaan penumpang, alat angkut dan komoditas lainnya dari negara terjangkit.

Tindakan Karantina

Tindakan karantina yang dilakukan oleh Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjungpinang adalah dengan mencegah masuknya tanaman/bagian tanaman karet atau media pembawa lainnya dari negara terjangkit seperti dari negara-negara di kawasan Amerika Selatan.

Karantina Pertanian Tanjungpinang Kembali Musnahkan Media Pembawa HPHK Dan OPTK Ilegal

Karantina Pertanian Tanjungpinang Kembali Musnahkan Media Pembawa HPHK Dan OPTK Ilegal

Tanjungpinang, Rabu (22/2). Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjungpinang melaksanakan tindakan karantina berupa pemusnahan terhadap pemasukan ilegal media pembawa Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK). Media pembawa yang dimusnakan tersebut berasal dari Singapura dan China, yaitu berupa Bahan Asal Hewan (BAH) sebanyak 7,5 kg, Hasil Bahan Asal Hewan (HBAH) sebanyak 11,5 kg, Tanaman Hidup dan Benih sebanyak 1 pohon dan Hasil Tanaman Hidup Bukan Benih sebanyak 5 kg.
Pemusnahan ini didasarkan pada hukum yang berlaku yakni Undang-Undang Republik Indonesia Nomor : 16 Tahun 1992 Tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan; Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor : 82 Tahun 2000 Tentang Karantina Hewan; Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor : 14 Tahun 2002 Tentang Karantina Tumbuhan; Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor : 05/Permentan/OT.140/2/2012 Tentang Pemasukan dan Pengeluaran Benih Hortikultura; Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor : 42/Permentan/OT.140/6/2012 Tentang Tindakan Karantina Tumbuhan Untuk Pemasukan Buah Segar dan Sayuran Buah Segar ke dalam Wilayah Negara Republik Indonesia; Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor : 51/Permentan/KR.010/9/2015 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 93/Permentan/OT.140/12/2011 Tentang Jenis Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina; Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor : 34/Permentan/PK.210/7/2016 Tentang Pemasukan Karkas, Daging, Jeroan, dan/atau Olahannya ke dalam Wilayah Negara Republik Indonesia; Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor : 55/Permentan/KR.040/11/2016 Tentang Pengawasan Keamanan Pangan Terhadap Pemasukan Pangan Segar Asal Tumbuhan; Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor : 17/Permentan/PK.450/5/2016 Tentang Pemasukan Daging Tanpa Tulang dalam hal tertentu yang berasal dari Negara atau Zona dalam Suatu Negara Asal Pemasukan; Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 3238/Kpts/PD.630/9/2009 Tentang Penggolongan Jenins-Jenis Hama Penyakit Hewan Karantina, Penggolongan dan Klasifikasi Media Pembawa; Surat Edaran Menteri Pertanian Nomor : TN.510/94/A/IV/2001 Tentang Tindakan Penolakan dan Pencegahan Masuknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor : 425/Kpts/KH.210/I/11/09 Tentang Pedoman Pengawasan Kehalalan Karkas, Daging dan/atau Jeroan dari Luar Negeri.
Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjungpinang, yang diwakili oleh Kepala Seksi Karantina Hewan Ibu drh. Gadis Rauzah dalam sambutannya mengatakan pemusnahan yang dilakukan merupakan salah satu langkah tindakan karantina dalam menjaga wilayah Kepulauan Riau agar senantiasa bebas dari HPHK dan OPTK yang belum ada di wilayah tercinta kita ini. Kepulauan Riau merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia. Kedekatan geografis ini selain memberikan keuntungan baik secara ekonomi maupun sosial juga mempunyai beberapa kerugian, salah satunya adalah wilayah Kepulauan Riau menjadi salah satu tempat pemasukan ilegal media pembawa HPHK dan OPTK.
Hadir pada kegiatan pemusnahan ini adalah perwakilan dari Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tanjungpinang, PT. Angkasa Pura II Cabang Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang dan para pejabat struktural serta fungsional Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjungpinang

Karantina Pertanian Tanjungpinang dukung program Pengembangan Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor (LPBE) Daerah Perbatasan

Karantina Pertanian Tanjungpinang dukung program Pengembangan Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor (LPBE) Daerah Perbatasan

Tanjungpinang (24/05/2017). Bertempat di ruang pertemuan, CK Hotel & Convention, Tanjungpinang. Tim Pengembangan Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor (LPBE) kembali mengadakan rapat koordinasi guna membahas perkembangan lanjutan cetak sawah dan sayuran di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Selain dihadiri oleh Bupati Lingga dan Direktur Perluasan dan Perlindungan Lahan, hadir juga dari Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat, Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjungpinang, Kasiter Korem 033/WP, Dinas KP2KH Provinsi Kepulauan Riau, BPTP Balitbangtan Kepulauan Riau dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lingga. Hasil pertemuan ini diperoleh beberapa kesepakatan terkait teknis lanjutan cetak sawah dan sayuran di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Sehingga diharapkan, Kabupaten Lingga sebagai salah satu lumbung pangan di daerah perbatasan dapat segera terealisasi.

Rapat evaluasi kinerja tahun 2016 dan penyusunan rencana kerja tahun 2017

Rapat evaluasi kinerja tahun 2016 dan penyusunan rencana kerja tahun 2017

Tanjungpinang Senin (9/1), Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjungpinang Drh. Fadjar agus S, memimpin rapat evaluasi kinerja tahun 2016 dan penyusunan rencana kerja tahun 2017. rapat ini dihadiri seluruh Pejabat Struktural, staff administrasi, Kordinator Fungsional Karantina Hewan dan Karantina Tumbuhan serta perwakilan dari pejabat fungsional. Dalam rapat Pimpinan membahas apa saja yang sudah dicapai pada tahun 2016 dan mengintruksikan apa yang sudah dicapai untuk dipertahankan dan ditingkatkan. Dalam rapat ini juga kepala balai mempersilahkan kepada para pejabat struktural untuk menyampaikan mengenai kendala kendala apa saja yang belum dan telah tertangani pada tahun 2016 lalu, serta program-program yang akan dibuat ditahun 2017 ini. Diakhir pertemuan, kepala Balai drh. Fadjar Agus S, memberikan apresiasi kepada semua pejabat struktural dan seluruh pegawai atas pencapaian kinerja yang telah dilakukan selama tahun 2016 dan diharapkan adanya peningkatan kinerja di tahun 2017 sehingga pelayanan publik yang dilakukan dapat dirasakan oleh

0
Connecting
Please wait...
Kirim Pesan

Silakan tinggalkan pesan.

Nama Anda
* Email
* Isi Pesan Anda
Login

Butuh Bantuan lain? Kirim Email ke bkp2tpi@yahoo.co.id.

Nama Anda
* Email
* Isi Pesan
Kami Online!
Feedback

Help us help you better! Feel free to leave us any additional feedback.

How do you rate our support?